Fenomena Generasi Terhimpit, atau yang dikenal juga sebagai sandwich generation, semakin umum terjadi di tengah masyarakat modern. Istilah ini menggambarkan individu dewasa yang secara bersamaan harus menopang kebutuhan finansial orang tua mereka yang sudah lansia dan juga kebutuhan anak-anak mereka sendiri. Namun, para psikolog kini memberikan pandangan yang lebih nuansa: tanggung jawab untuk membiayai orang tua tidaklah mutlak berada di pundak anak-anak.
Menurut Dr. Clara Wijaya, seorang psikolog keluarga yang aktif dalam advokasi kesehatan mental, beban finansial yang ditanggung oleh Generasi Terhimpit seringkali menimbulkan tekanan mental yang luar biasa. Dalam sesi diskusi daring pada 15 Mei 2025, Dr. Clara menekankan bahwa meskipun rasa bakti dan hormat kepada orang tua adalah nilai luhur, hal itu tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk materi secara tunggal. “Ekspektasi bahwa anak wajib membiayai orang tua sepenuhnya seringkali berasal dari norma sosial, bukan kebutuhan psikologis yang sehat,” ujarnya.
Tekanan ganda ini dapat menyebabkan stres kronis, kecemasan, bahkan depresi pada individu Generasi Terhimpit. Mereka mungkin merasa terjebak, tidak memiliki cukup sumber daya untuk diri sendiri, dan mengorbankan masa depan finansial demi memenuhi tuntutan dua generasi sekaligus. Situasi ini, jika berlanjut, dapat merusak kualitas hubungan keluarga dan memicu konflik yang tidak perlu. Penting untuk diingat bahwa setiap keluarga memiliki kondisi finansial dan dinamika yang berbeda.
Para ahli menyarankan agar ada komunikasi terbuka dan jujur antara orang tua dan anak mengenai kemampuan finansial masing-masing. Alih-alih memikul beban sendirian, anak dapat membantu orang tua mencari alternatif dukungan, seperti memanfaatkan program pensiun, asuransi, atau bahkan mencari dukungan dari anggota keluarga lain yang juga mampu. Dukungan emosional, kehadiran, dan waktu berkualitas bersama seringkali jauh lebih berharga daripada sekadar bantuan finansial. Dalam sebuah konferensi tentang dinamika keluarga di tingkat regional pada 20 Mei 2025, disoroti pentingnya batasan yang jelas dan realistis demi kesejahteraan semua pihak.
Memahami bahwa tanggung jawab finansial orang tua tidak mutlak pada anak dapat meringankan beban Generasi Terhimpit. Ini membuka jalan bagi terciptanya hubungan keluarga yang lebih sehat, seimbang, dan berkelanjutan, di mana cinta dan dukungan emosional menjadi prioritas utama.