Generasi Z Terjebak Konsumtif? Pahami Akibat FOMO pada Keuangan

Generasi Z terjebak konsumtif? Pertanyaan ini sering muncul seiring dengan kebiasaan belanja dan gaya hidup yang mereka pamerkan di media sosial. Salah satu pemicu utama di balik pola konsumsi yang berlebihan ini adalah fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Perasaan cemas karena takut ketinggalan tren atau pengalaman yang dilihat di linimasa digital dapat mendorong Gen Z melakukan pembelian impulsif, yang pada akhirnya berdampak serius pada kesehatan finansial mereka.

FOMO adalah pemicu utama mengapa Generasi Z terjebak konsumtif. Dengan paparan konstan terhadap gaya hidup “ideal” yang diunggah oleh teman sebaya, influencer, atau figur publik di platform seperti Instagram, TikTok, atau X (Twitter), muncul tekanan tak terlihat untuk ikut serta. Melihat teman-teman bepergian ke tempat wisata populer, membeli gadget terbaru, atau menikmati makanan di kafe kekinian, bisa menimbulkan rasa tidak ingin ketinggalan. Akibatnya, mereka terdorong untuk mengeluarkan uang, bahkan jika itu melebihi kemampuan finansial mereka atau mengabaikan prioritas keuangan lainnya. Sebuah laporan dari Konsultan Keuangan Pribadi “Cerdas Finansial” yang dirilis pada bulan April 2025 menyebutkan bahwa 7 dari 10 Gen Z mengakui merasa tertekan untuk membeli barang-barang yang tidak mereka butuhkan setelah melihatnya di media sosial.

Dampak dari perilaku ini sangat nyata. Generasi Z terjebak konsumtif seringkali kesulitan menabung, padahal menabung adalah fondasi penting untuk keamanan finansial di masa depan. Mereka mungkin menghabiskan sebagian besar penghasilan bulanan untuk keinginan sesaat, bukan investasi atau dana darurat. Akibatnya, banyak dari mereka yang bergantung pada pinjaman online atau kartu kredit, yang jika tidak dikelola dengan bijak, dapat menjerumuskan mereka ke dalam lingkaran utang. Utang konsumtif ini, yang seringkali memiliki bunga tinggi, menjadi beban berat yang menghambat kemandirian finansial mereka.

Untuk keluar dari jebakan ini, Generasi Z terjebak konsumtif perlu mengembangkan literasi finansial yang lebih baik dan kesadaran diri. Langkah pertama adalah membuat anggaran yang realistis dan memprioritaskan kebutuhan di atas keinginan. Penting juga untuk meninjau kembali kebiasaan berselancar di media sosial; mungkin perlu membatasi diri dari akun-akun yang memicu konsumerisme. Memulai kebiasaan menabung dan berinvestasi, sekecil apa pun, akan sangat membantu membangun fondasi keuangan yang kuat. Dengan disiplin dan pemahaman yang lebih baik tentang nilai uang, Gen Z bisa melepaskan diri dari tekanan FOMO dan mengelola keuangan mereka secara lebih bijak.