Milenial Terimpit Krisis: Mengapa Baby Boomer Jadi Generasi Paling Berada?

Perbedaan nasib ekonomi antargenerasi menjadi perbincangan hangat, terutama dengan kondisi Milenial terimpit krisis demi krisis, sementara generasi Baby Boomer (lahir 1946-1964) mengukuhkan diri sebagai kelompok paling berada. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari kombinasi faktor ekonomi, sosial, dan historis yang membentuk jalur finansial masing-masing generasi. Memahami mengapa Milenial terimpit krisis dapat memberikan wawasan penting tentang tantangan ekonomi saat ini.

Generasi Baby Boomer memiliki keberuntungan besar untuk tumbuh di era pasca-Perang Dunia II yang ditandai oleh ledakan ekonomi dan stabilitas. Mereka menikmati pasar kerja yang kuat, upah yang terus meningkat, biaya pendidikan dan properti yang relatif terjangkau, serta pasar saham yang melaju pesat. Kondisi ekonomi yang kondusif ini memungkinkan mereka untuk menabung, berinvestasi, dan mengakumulasi aset seperti rumah dan portofolio saham dengan lebih mudah. Pada puncaknya, mereka memiliki kesempatan emas untuk membangun fondasi kekayaan yang kokoh.

Sebaliknya, Milenial terimpit krisis finansial sejak mereka memasuki usia dewasa. Banyak dari mereka mulai bekerja tepat pada saat atau setelah Resesi Besar tahun 2008, menghadapi pasar kerja yang lesu, pertumbuhan gaji yang stagnan, dan biaya hidup yang terus meningkat. Pandemi COVID-19 pada 2020-2021 juga memberikan pukulan telak, disusul oleh gelombang inflasi yang tinggi pada tahun 2022-2023 yang mengikis daya beli. Harga rumah yang meroket di banyak kota besar juga semakin menyulitkan Milenial untuk memiliki properti, salah satu pilar utama akumulasi kekayaan.

Menurut laporan dari lembaga riset keuangan pada akhir 2024, rata-rata tabungan Milenial jauh lebih rendah dibandingkan dengan Baby Boomer pada usia yang sama. Beban utang pendidikan yang tinggi juga menjadi faktor signifikan yang memperparah kondisi finansial Milenial. Mereka seringkali harus mengalokasikan sebagian besar pendapatan untuk membayar utang dan sewa, menyisakan sedikit ruang untuk menabung atau berinvestasi.

Meskipun demikian, ada secercah harapan. Beberapa ahli ekonomi memprediksi bahwa transfer kekayaan antar generasi dari Baby Boomer akan mulai mengalir ke Milenial dan Generasi Z di masa depan. Selain itu, peluang dalam ekonomi digital dan hijau juga dapat membuka jalur baru untuk akumulasi kekayaan. Namun, untuk mengatasi kondisi Milenial terimpit krisis ini, diperlukan kebijakan ekonomi yang lebih pro-aktif, seperti dukungan akses perumahan terjangkau, inisiatif literasi keuangan, dan penciptaan lapangan kerja yang berkualitas untuk generasi muda.