Mengelola perilaku balita yang menantang, seperti tantrum atau menolak mengikuti aturan, adalah tantangan universal bagi setiap orang tua. Untuk merespons perilaku ini tanpa menggunakan hukuman fisik atau verbal, dua pendekatan disiplin non-kekerasan yang sering dibahas adalah Time-Out dan Time-In. Memahami Teknik Disiplin ini sangat penting, karena keduanya menawarkan cara yang berbeda untuk mengajar anak tentang konsekuensi, regulasi emosi, dan batasan sosial. Bagi orang tua yang ingin menerapkan Positive Parenting, Memahami Teknik Disiplin mana yang paling efektif dan sesuai dengan usia anak menjadi langkah awal yang krusial.
Time-Out (waktu jeda) adalah metode disiplin yang lebih tradisional. Konsepnya adalah anak dipindahkan sementara ke tempat yang tenang dan membosankan (seperti kursi sudut atau tangga) segera setelah perilaku buruk terjadi. Tujuannya adalah memutus rally perilaku buruk tersebut dan memberikan anak waktu untuk menenangkan diri dan merenungkan kesalahannya. Secara umum, durasi Time-Out diukur berdasarkan usia, misalnya 1 menit untuk setiap tahun usia anak. Metode ini efektif untuk anak usia prasekolah (sekitar 3 hingga 5 tahun) yang sudah memiliki kemampuan kognitif dasar untuk menghubungkan perilakunya dengan konsekuensi yang terjadi. Penelitian dari Pusat Studi Perkembangan Anak di Universitas Jaya pada September 2025 menunjukkan bahwa Time-Out paling berhasil ketika didahului dan diakhiri dengan penjelasan singkat tentang aturan yang dilanggar.
Namun, beberapa ahli anak kini lebih menganjurkan Time-In (waktu bersama). Time-In adalah strategi ampuh yang berfokus pada koneksi emosional daripada isolasi. Ketika anak berperilaku buruk, alih-alih diasingkan, orang tua duduk bersama anak di tempat yang tenang (sering disebut calm-down corner). Tujuannya adalah membantu anak menamai dan mengelola emosinya (co-regulation) sebelum membahas perilaku tersebut. Contohnya, jika balita mengamuk karena tidak mendapatkan es krim, orang tua akan memeluknya dan berkata, “Papa tahu kamu marah, ayo kita duduk di sini sampai badanmu tenang.” Baru setelah anak tenang, dibahaslah aturan tentang makan es krim.
Memahami Teknik Disiplin ini menunjukkan bahwa Time-In lebih sesuai untuk balita yang sangat muda (di bawah 3 tahun) karena pada usia ini, anak belum mampu meregulasi emosinya sendiri dan membutuhkan kehadiran orang tua sebagai jangkar emosional. Pada akhirnya, orang tua perlu menggabungkan kedua teknik ini, memilih Time-In untuk mengajarkan regulasi emosi dan Time-Out yang singkat untuk menegakkan batasan yang dilanggar secara berulang, menjadikan keduanya sebagai bagian integral dari pola asuh yang efektif.